in

Review Film “Love & Mercy” (2015)

nonton Love & Mercy 2015

Di dalam negeri gaungnya mungkin tak terdengar, tapi di Amerika The Beach Boys punya dampak signifikan terhadap budaya pop tahun 60-70an, tak kalah jika dibandingkan dengan The Beatles.

Love & Mercy bukanlah film biopik mengenai band legendaris tersebut, melainkan berfokus pada Brian Wilson, frontman-nya yang populer tak hanya karena kejeniusannya tapi juga karena ketidakstabilan mentalnya.

Yang menarik, sutradara Bill Pohlad yang mengarahkannya dari naskah yang ditulis oleh Michael Alan Lerner dan Oren Moverman menghindari formula biopik musikal yang seperti sudah mengikuti pakem tertentu — tokoh yang berangkat dari level bawah, meraih popularitas, lalu jatuh gara-gara attitude yang buruk atau (seringkali) narkoba, dan menemukan penebusan di akhir — meski tak seeksperimental I’m Not There-nya Todd Haynes.

Alih-alih, struktur yang dipakai adalah dua narasi berbeda jaman yang mencermati dua titik balik dalam kehidupan Brian: saat ia berada di puncak ketenaran namun tak menemukan wadah yang tepat bagi kreativitasnya dan saat kehidupannya diatur oleh psikiaster manipulatif, Dr. Eugene Landy.

Paul Dano bermain sebagai Brian muda. Potongan video di awal menunjukkan bagaimana The Beach Boys meraih popularitas puncaknya pada pertengahan 60an. Daripada melakukan tur keliling dunia, Brian yang merasa tersaingi dengan album “Rubber Soul”-nya The Beatles lebih memilih untuk mengkreasi album terbaik sepanjang masa, album yang kelak menjadi “Pet Sounds”.

nonton Love & Mercy 2015

Keadaan tak berjalan lancar karena kreativitasnya dianggap terlalu idealis sehingga tak didukung oleh personil lain yang juga adalah keluarganya sendiri, terlebih Mike Love (Jake Abel). Belum lagi distraksi dari ayahnya yang abusif, Murry Wilson (Bill Camp), orang yang dibenci sekaligus dicari pengakuannya oleh Brian. Brian mulai mendengar suara-suara di kepalanya, dan narkoba sama sekali tak membantu.

Meloncat beberapa dekade kemudian, kehidupan Brian mulai melambat tapi tak membaik. John Cusack mengambil alih peran Wilson paruh baya yang tampaknya berada dalam keadaan pasca gangguan mental. Segala aspek kehidupannya dikontrol dengan ketat oleh terapis Dr. Eugene Landy (Paul Giamatti), mulai dari proses kreatif hingga personal.

Tak hanya mengatur diet, merecoki Brian dengan obat-obatan untuk mengatasi skizofrenianya, namun Landy juga mengintervensi hubungan Brian dengan seorang pramuniaga Cadillac, Melinda (Elizabeth Banks) yang — spoiler?! — kelak menjadi istrinya hingga sekarang.

Narasi paralel yang bolak-balik meloncat di dua era ini mungkin riskan terhadap koherensi plot, tapi Pohlad mengeksekusinya dengan baik tanpa membuat penonton terasing. Dari luar, tak ada kemiripan eksternal antara Dano dengan Cusack. Dalam salah satu penampilan terbaiknya, Dano sangat mirip dengan Wilson muda.

Ia adalah remaja tanggung dengan dandanan layaknya idola pop biasa tapi punya pembawaan yang eksentrik dan sangat idealis. Representasi Cusack lebih ke gestur. Tetap canggung secara sosial, ada kesenduan dalam suaranya nyaris berbisik. Namun keduanya tampil harmonis dalam konteksnya masing-masing. Kita menyaksikan persona yang berbeda namun kita percaya bahwa mereka adalah orang yang sama.

nonton Love & Mercy 2015

Elizabeth Banks tampil sederhana sebagai Melinda, orang pertama (mungkin) yang menerima Brian apa adanya. Sejak pertemuan pertama mereka di dealer Cadillac, Melinda telah menunjukkan empati, yang kemudian melibatkannya dalam usaha melepaskan Brian dari kungkungan Landy. Tak perlu saya sebutkan jika Landy sangat didiskreditkan disini, nyaris menjadi antagonis keji murni satu-dimensi (wig aneh dari Giamatti telah memberi isyarat pada penonton).

Jarang sekali ada film tentang musik yang benar-benar mengangkat proses kreatif musisinya. Secara mengejutkan, film ini cukup banyak menghabiskan waktunya di studio. Pohlad mereka ulang proses Brian menciptakan “Pet Sounds” (termasuk lagu “Good Vibrations” yang legendaris) yang menggunakan berbagai bunyian non instrumen untuk albumnya (bel sepeda, gonggongan anjing).

Kita melihat obsesinya pada kesempurnaan nada. Sebuah sorotan kamera yang mengelilingi studio rekaman tentunya akan menjadi kesenangan tersendiri bagi penikmat film yang juga penikmat musik.

Love & Mercy adalah tribut dan apresiasi pada Brian Wilson. Film ini tak hanya merayakan sisi artistik namun juga sisi pribadi subyeknya. Dibuat dengan cerdas dan detail yang baik, anda kemungkinan besar akan menyukainya, entah anda adalah penggemar The Beach Boys atau bukan.

Written by Adhiarya Saputra